Nihao sobat semua. Kembali lagi dengan ku dengan cerita dari negeri Tirai Bambu. Kali ini aku mau sharing seputar apa saja sih yang perlu sobat ketahui sebelum kuliah di China. Bagaimana karakter masyarakatnya, kondisi sosial, dan budaya yang menurutku penting untuk diketahui. Yuk simak penjelasan berikut.
Disclaimer dulu nih sobat. Semua yang aku tulis murni pengalaman dan pendapat pribadi ya 🤗
Sebelum memilih berangkat ke China, sebenarnya ada tawaran untuk berkuliah di tempat lain, yaitu Taiwan. Tetapi ada beberapa pertimbangan mengapa akhirnya memantapkan hati untuk pergi ke Negeri Tirai bambu. Pertama durasi kuliah di China yang lebih lama (3 tahun) dengan full beasiswa. Dari sini, tentu akan lebih banyak ilmu yang didapat dan aku menyukai hal itu. Kedua, aku yakin tinggal di China bukan hal yang mudah mengingat di nagara ini Muslim adalah minoritas dan beberapa orang mengatakan karakter orang asli China sangat berbeda dengan Taiwan. Berbekal pengalaman kunjungan singkat ke Taiwan tahun 2018, menurutku orang-orang Taiwan sangat ramah dan memiliki karakter yang lebih lembut. Lalu, mengapa memilih China? Jawabannya adalah aku ingin keluar dari zona nyaman dan melatih mentalku untuk menghadapi dunia luar yang lebih keras. Aku ingin tahu bagaimana cara orang asli Tiongkok bekerja, sehingga harapannya semangat kerja keras itu juga akan menular.
Oleh karena itu sobat, aku ingin menyampaikan beberapa hal yang wajib diketahui sebelum kalian kuliah di China daratan. Sebelumnya aku banyak berbagi tentang bagaimana tinggal di China dengan segala kecanggihan teknologi, keindahan budaya, dan ragam tempat wisata yang sangat menarik. Di sisi lain, tentu ada hal-hal yang sangat berbeda dengan budaya di Indonesia, terutama karakter asli orang China. Harapannya, sobat semua bisa menyiapkan mental yang matang, membawa semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu, tanpa akhirnya terbebani dengan lingkungan yang “mungkin” bukan menjadi kebiasaan seperti di tanah air kita.
Individualisme yang tinggi
Pertama, warga China daratan cenderung individualis ya sobat, sangat berbeda dengan masyarakat Indonesia yang murah senyum, hangat, dan suka membantu. My business comes first. Mereka tidak suka mengurusi individu lain terlalu dalam. Tetapi, ini juga tidak general ya. Tentu masih banyak individu yang sangat baik dan ramah. Banyak pula aku menjumpainya. Namun secara umum, mereka akan mengutamakan kepentingan sendiri diatas orang lain. Ketika aku membahas hal ini, teman asli Chinese mengatakan, orang China bukan tidak mau membantu orang lain, tetapi hari-hari mereka sudah sangat sibuk dengan bekerja dan belajar, sehingga tidak ada waktu banyak untuk berinteraksi dengan orang lain. Tapi hal ini menjadi sangat wajar mengingat persaingan kerja dan belajar di China sangat tinggi. Mereka tidak mau kalah satu sama lain, apalagi dalam hal pendidikan. Awal datang di China, mungkin aku yang terbisa dengan lingkungan hangat merasakan perbedaan yang besar. Tetapi setelah satu tahun lebih menetap disini, semuanya terasa nyaman kok. Alhasil, untukku yang berjiwa introvert ini bisa berkespresi ketika berada di luar.
Karakter orang China daratan yang cenderung keras dan serba cepat
Kedua, jangan heran jika orang China daratan berbicara dengan nada yang tinggi, mirip orang berteriak. Awalnya aku juga kaget dan mengira mereka sedang marah. Namun ternyata, ini adalah bawaan dari bahasa Mandarin sendiri yang memiliki 4 tone. Nah, tone ke-4 nada turun ini yang memberikan tekanan dan mempertegas kata yang disampaikan. Sehingga terdengar seperti orang yang berbicara dengan nada tinggi. Padahal mereka sedang bercengkerama biasa. Yang sudah belajar bahasa Mandarin pasti relate dengan ini.
Selain itu, orang China daratan terbiasa melakukan apapun dengan cepat ya. Jadi kamu juga harus aware dan jangan sampai tertinggal. Pastikan fokus dan bisa memahami situasi dengan cepat. Seperti yang aku share sebelumnya, di China semua bisa diakses secara online dengan mudah. Selain itu, orang China cenderung pragmatis, mengutamakan kepraktisan dan kegunaan.
Kerja keras dan tekun itu wajib
Sudah tidak heran lagi jika kerja keras dan ketekunan sudah mendarah daging bagi orang China. Sejak dini, mereka sudah dilatih kerja keras oleh orang tua dan lingkungan mereka. Di China, sekolah TK selesai sampai pukul 4 loh, anak SD pukul 4.30 sehingga tidak ada hari bagi mereka untuk tidak belajar. Setelahnya, anak-anak juga harus mengerjakan PR hingga malam. Bahasa Mandarin merupakan salah satu bahasa paling sulit di dunia. Oleh karena itu, untuk memperlajari bahasa mereka sendiri pun, orang China harus bekerja dengan ekstra keras.
Jika kamu berkuliah di China, kamu harus pro-aktif dan berusalah untuk bersungguh-sungguh dalam setiap aktivitas. Orang China sangat menghargai kerja kerasmu. Ikuti jadwal yang sudah ditentukan dan jalin hubungan baik dengan supervisor atau dosen pembimbing (Laoshi). Jika kamu malas, orang lain juga tidak akan respek terhadap kamu. Ditambah lagi, jika kamu terbiasa menggantungkan diri terhadap orang lain, upayakan untuk belajar dan bekerja secara mandiri. Meskipun kelak kamu akan pulang ke Indonesia atau bekerja di negara lain, biasakanlah untuk tekun dalam bekerja dan belajar. Jangan lupa juga lakukan apapun dengan tulus agar kamu bisa menikmati semua proses ini.
Menjunjung tinggi kejujuran dan kedisiplinan
Orang China asli sejak kecil sudah dididik untuk jujur dan disiplin. Tidak ada toleransi semisal kamu ketahuan untuk mencontek saat ujian. Di China, CCTV beterbaran dimana-mana ya, jadi jangan sekalipun mencoba hal yang tidak jujur dan buruk. Mereka sangat menghargai kejujuran dan kedisiplinan terhadap waktu. Menurutku, ini adalah hal yang sangat positif. Kejujuran dan kedisiplinan wajib ditanamkan sejak dini.
Agama adalah milik pribadi
Mungkin bagi kamu yang mengira orang China daratan beragama Budha atau Konghuchu seperti orang China di Indonesia, hal ini kurang tepat ya sobat. Sebagian besar orang China tidak beragama alias Atheis. Sangat sedikit bahkan yang memeluk agama seperti Budha dan Muslim. Semua teman-teman Chineseku juga tidak ada yang memeluk agama. Sedangkan Konghuchu atau dalam bahasa Inggris disebut Confusianism memang betul berasal dari China. Akan tetapi, di China sendiri, Confusianism bukan dianggap sebagai agama melainkan pedoman berkehidupan menjadi manusia. Sehingga tidak ada ritual-ritual peribadatan seperti yang dilakukan umat beragama. Alhasil, tidak ada hari libur keagamaan ya sobat. Hari libur di China berasal dari peryaan festival tradisional China seperti Chinese New Year, Mid-autumn Festival, Dragon Boat Festival, dll.
Oleh karena itu, pemerintah China tidak mencampuradukkan pendidikan dengan agama. Mereka membebaskan kita untuk memeluk agama tetapi melarang kita melakukan kegiatan keagamaan di lingkungan pekerjaan dan pendidikan. Tentu sekolah tidak akan menyediakan tempat ibadah ya. Jika kamu seorang mahasiswa Muslim, kamu hanya bisa melaksanakan sholat di masjid atau di asrama. Begitu juga dengan umat Nasrani. Kegiatan peribadatan hanya bisa dilaksanakan di gereja.
Perlu diingat sobat, tujuan utama kita disini adalah belajar dan menimba ilmu. Dimana saja kita berada, tentu ada kekurangan dan kelebihannya. Dengan tinggalnya kita di lingkungan yang berbeda, semakin menambah khazanah pengetahuan dan pola berpikir kita. Kurangi ekspektasi bahwa segalanya akan berjalan dengan mulus layaknya jalan tol, tanpa kemacetan. Semua tentu banyak tantangannya. Satu lagi, tidak perlu khawatir jika kedepan akan menghadapi hal-hal yang sulit, karna justru itulah yang mendewasakan dan menguatkan kita. Insya Allah, selalu ada jalan dibalik semua kesusahan yang kita hadapi. Percayalah, kita akan belajar banyak dengan hidup di lingkungan yang baru. Membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.
“Karena sesungguhnya di dalam kesulitan itu ada kemudahan. Sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
QS Al Insyirah 5-6


