Nihao Sobat Nihao Nanjing. Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga semuanya sehat dan bahagia ya. Kali ini aku mau sharing singkat tentang acara tadi malam dari Robwah Sharing Inspiration 2025. Ada 5 pemari yang sedang berkuliah di 5 negara, menceritakan kisah inspiratifnya bagaimana kuliah di luar negeri. Yuk kita simak langsung di bawah.

Seperti kisah dari film Negeri 5 Menara, dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2025, Robwah Foundation mengajak lima insannya untuk menyampaikan sharing inspirasi tentang perkuliahan di luar negeri, langsung dari lima negara yang berbeda. Dipandu oleh Mas Rafi’ Abiyyu Mukti, mahasiswa magister kesehatan masyarakat Universitas Airlangga, acara yang dilaksanakan secara online melalui media zoom pada 2 Mei pukul 19:30 WIB ini memperoleh antusias yang baik dari para peserta. Ustadz Afri Andiarto, SM., MM, selaku pembina utama Robwah Foundation, turut membuka acara dan menyampaikan beberapa pesan penting terkait pentingnya menimba ilmu setinggi-tingginya. Seperi hadist Rasulullah ﷺ ,
اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ (Uthlub al-‘ilm walau bisshin) – Tuntutlah Ilmu, walau ke negeri China
hadist ini dimaknai pentingnya menuntut ilmu walau di tempat yang amat jauh. Dimana saja, di bumi Allah yang luas. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh bermalas-malasan dalam menuntut ilmu dan tidak boleh cepat merasa puas dengan ilmu yang dimilikinya saat ini. Ustadz Afri juga selalu mengajak insan Robwah untuk senantiasa haus akan ilmu dalam kondisi apapun.
Sharing pertama disampaikan oleh Mbak Lista Nisrina yang saat ini sedang menempuh S1 di Applied Science Private University, Jordan, paling muda diantara empat pemateri lainnya. Akrab disapa Mbak Listina, beliau dengan background pendidikan pondok pesantren ini mampu mewujudkan mimpinya untuk kuliah di luar negeri di jurusan Ilmu Syariah. Dengan keinginan dan cita-cita tinggi akhirnya beliau mendapat restu dari orang tua untuk memantapkan pilihan pergi ke negara Jordan setelah sempat dilema dengan pilihan negara lain seperti Mesir, Maroko, Brunei. “Salam 24 jam”, tutur Mbak Lista yang saat ini mengemban amanah sebagai koordinator di salah satu departemen di PPI Jordan. Wah, keren sekali ya semangatnya. Tak hanya soal akademik, Mbak Lista juga aktif berorganisasi. Kak Lista menyampaikan pula bahwa semangat menuntut ilmu memerlukan konsistensi yang tinggi untuk meraihnya, tahan dengan segala jenis kondisi, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.
Sharing kedua disampaikan oleh Mushonnifun Faiz Sugihartanto, S.T., MSC, CPLM, atau akrab dipanggil Mas Faiz. Beliau saat ini adalah mahasiswa doktoral di Hanken School of Economic, Finlandia. Turut mengajak istri dan anaknya ke Finlandia, Mas Faiz menceritakan bahwa seberapa penting peran beliau mahasiswa, keluarga tetap menjadi prioritas utama. Mas Faiz sendiri terinspirasi dari salah satu tokoh perempuan inspiratif yaitu Dewi Nur Aisyah dari postnya yang menyentuh hati. Memposisikan diri sebagi perempuan, beliau menuturkan bahwa menjadi seorang istri dan ibu adalah ibadah yang mulia di sisi Allah SWT, begitu pula ketika menjadi seorang penuntut ilmu. Kalau mampu menjalankan tiga peran sekaligus, bisa dibayangkan betapa Allah swt sangat menyukainya. Hal inilah yang memacu semangat Mas Faiz untuk menuntut ilmu doktoral meski sudah berkeluarga. Beliau berusaha memanfaatkan delapan jam waktunya di kampus untuk belajar sehingga ketika pulang ke rumah dapat berkumpul dengan keluarga dengan waktu yang berkualitas.
Perjalanan beliau sampai ke Finlandia bukan tanpa rintangan. Mas Faiz, yang saat ini menerima beasiswa penuh dari LPDP, menceritakan tentang banyak kegagalan dan kesulitan untuk menghubungi target supervisor doktoralnya, hingga akhirnya rezeki itu didapat di Finlandia, The Country of Happiness. Di Finlandia, beliau dan keluarga mendapat banyak sekali benefit langsung dari pemerintah, mulai dari tunjangan kesehatan, tunjangan pekerjaan, dan pendidikan gratis untuk anak dan istrinya. Meski sebelumnya berharap untuk diterima di negara Swedia yang merupakan tempatnya lulus program magister, ternyata Finlandia adalah negara terbaik untuk Mas Faiz dan keluarga bertumbuh. Sungguh, Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana. Selain itu, mas Faiz juga menceritakan bagaimana hobinya membaca buku mampu menginspirasi dan membawanya menjelajahi berbagai negara. Membawa mimpi dan harapan, melalui semangat menuntut ilmu.
Sharing ketiga disampaikan oleh Mohammad Zeqi Yasin, MSC, atau akrab dipanggil Mas Zeqi. Beliau adalah alumni S1 ekonomi Universitas Airlangga yang saat ini menempuh program doktoral di University of Glasgow, UK, tepatnya di negara bagian Scotland. Sebelumnya, Mas Zeqi juga mengenyam pendidikan magister di UK loh. Pengalaman beliau di negara Britania Raya bukan hal yang mudah tentu saja. Dengan berbagai macam kegagalan dan penolakan sana-sini, akhirnya mengantarkan beliau lolos LPDP dua kali di UK. Menurut Mas Zeqi, mendaftar jurusan ekonomi di Asia cenderung lebih sulit dibandingkan di negara Nordic. Sebelumnya Mas Zeqi sudah sempat mendaftar di Seoul National University, tetapi dengan berbagai administrasi dan seleksi yang rumit, SNU belum menjadi rezekinya. Meskipun beliau terlahir dari keluarga yang tidak memiliki background akademik, hal ini tak menyurutkan semangat untuk menimba ilmu hingga jenjang doktor loh. Beliau juga banyak menuliskan kisah inspiratifnya mengikuti seleksi beasiswa dan mendaftar kuliah di luar negeri melalui blog pribadinya.
Terakhir, kita mendapatkan banyak insight dari pemateri ke empat yaitu Lisana Rachmawati SM., atau biasa dipanggil Mbak Lisana. Beliau saat ini sedang menempuh studi S2 di Wageningen University and Research, Belanda dengan progam Environmental Science, progam yang terkenal memiliki keunggulan di bidang research lingkungan nomor dua di dunia, satu tingkat dibawah Harvard University. Mbak Lisana menceritakan kisahnya dari yang dulunya lulus S1 management kemudian berpindah ke jurusan saat ini. Ternyata, prosesnya juga melalui banyak tantangan. Alumni SMAN 5 Surabaya ini awalnya gagal di kampus impiannya S1 dan akhirnya memilih jurusan managemen di Universitas Airlangga. Setelah lulus S1, keinginannya untuk langsung mengambil program magister harus terhenti sejenak karna kondisi ayah yang tidak bekerja, sehingga beliau memilih untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Selain itu, posisi Mbak Lisana sebagai anak perempuan tunggal mengharuskan beliau memenuhi keinginan keluarga untuk menikah terlebih dahulu. Saat ini beliau bekerja sebagai staf ahli di PLN Indonesia. Dengan prestasinya yang gemilang, Allah membukakan jalan Mbak Lisana untuk melanjutkan studi S2 di usia 30 tahun, melalui beasiswa penuh yang diberikan oleh pihak PLN Indonesia, dengan memberangkatkan staff terbaiknya untuk memperdalam keahlian di bidang environmental science. Beliau juga menyampaikan betapa pentingnya mengejar impian dengan tidak membandingkan proses diri sendiri dan orang lain. “Masing-masing dari kita memiliki musimnya. Ada yang musim sekolah, musim bekerja, musim menikah, dsb. Sehingga kita tidak bisa membandingkan musim kita satu sama-lain”, tutur Mbak Lisana.
Selain itu, beliau juga menceritakan bahwa memperoleh nilai di Belanda itu juga sangat sulit. Bahkan mendapat nilai 6 pun sudah setara dengan IPK 4 di Indonesia. Universitas-universitas di Belanda sendiri menekankan pada pemahaman konsep dibandingkan dengan menghafalkan materi, sehingga mahasiswa mampu mengimplementasikan ilmunya di lapangan. Keren sekali ya sobat. Apakah sobat Nihao ada yang bercita-cita sekolah di Belanda seperti Mbak Lisana?

Sekian sharing singkat dari beberapa pemateri keren kita di Robwah Sharing Inspiration 2025. Buat sobat Nihao yang ingin melihat sharing dariku bisa download PDF di bawah. Semoga rangkuman singkat ini bisa memotivasi sobat Nihao untuk senantiasa menunutut ilmu dimanapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun. Bai Bai.


