Hai sobat Nihao Nanjing. Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga semua senantiasa sehat dan happy ya. Kali ini, aku mau melanjutkan sharing pengalaman menuntut ilmu di Negeri Tirai Bambu. Pengalaman yang tak hanya menyajikan pentingnya pendidikan formal di dalam kelas, tetapi juga pelajaran kehidupan yang bisa dipetik hikmah. Bagaimana selengkapnya? Yuk langsung saja check it out!
Sistem Pendidikan di Era Tiongkok Kuno
Seiring berjalannya waktu menjalani hari-hari di China, aku menemukan satu hal yang begitu penting, yang jika dikelola dengan baik, hal ini mampu menjadi landasan dan pondasi tegaknya sebuah bangsa. Apakah itu? PENDIDIKAN. Mengapa kata ini harus dicapslock? Ya, pendidikan adalah simbol kekuatan yang memiliki peran sangat krusial bagi kemajuan sebuah negara. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa negara yang maju pasti memiliki kualitas pendidikan yang unggul, yang mampu membawanya menuju peradaban yang lebih baik.
Penanaman semangat menuntut ilmu di China tidak main-main loh. Sangatlah kuat dan mengakar sejak peradaban China kuno, bahkan sebelum masa Nabi Isa ‘alaihissalam lahir. Yuk kita simak bagaimana sistem pendidikan kuno di China, yang menjadi akar kuatnya sistem pendidikan di China hingga saat ini.
Pendidikan di Era China Kuno
Masyarakat feodal di Tiongkok sangat menekankan pada pendidikan, terutama tercermin dalam dua aspek: (1) Menekankan pada status guru sebagai sosok yang terhormat dan mempromosikan rasa hormat terhadap guru di seluruh masyarakat. Mereka percaya bahwa guru adalah dasar untuk memerintah negara. Seorang filsuf terkenal dimasa Dinasti Tang bernama Han Yu, menyatakan peran guru adalah untuk “menyampaikan kebenaran, memberikan pengetahuan, dan menyelesaikan keraguan,” menekankan bahwa selama pengetahuan dan kebenaran ada, begitu juga guru. Di sekolah-sekolah tradisional Tionghoa, upacara seperti “Shicai (释菜)” dan “Shidian (释奠)” diadakan di awal sekolah atau selama pendiriannya untuk menghormati para leluhur, guru, atau orang bijak terdahulu yang telah wafat. (2) Menekankan status pendidikan yang sakral dan membimbing masyarakat untuk menghormati pendidikan. Pendidikan diaggap sebagai profesi suci, yang tidak boleh diremehkan atau dinodai. Pemerintah masa itu juga menggunakan sistem ujian kekaisaran untuk menarik para sarjana/cendekiawan untuk berpartisipasi dalam politik, merangsang pola pikir budaya penghormatan terhadap pendidikan.

Source: Zhengding Confucian Temple Sacrifice Confucius Memorial Ceremony_Hebei News Network
Karakteristik dasar pendidikan kuno Tiongkok adalah menekankan pada moral daripada sains dan teknologi, menghargai warisan antara guru dan siswa daripada kreativitas dan penemuan. Tujuannya, untuk mencetak generasi perwira dengan berbagai tingkatan dibanding pada bakat yang diperlukan untuk pembangunan nasional. Karakter Cina “教” (jiao/mendidik, mengajar) menandakan tangan yang memegang tongkat untuk memukul seorang anak, dengan dua tanda di kepala anak yang menunjukkan bahwa arti asli dari “pendidikan” adalah mendisiplinkan anak-anak dengan tongkat untuk membuat mereka mengikuti kehendak orang tua mereka.

Source: 1. Education in ancient China – Chinese Culture
Catatan sejarah membuktikan bahwa sekolah-sekolah di Tiongkok sejak zaman Dinasti Xia (2070 SM-1600 SM). Namun, sekolah paling awal yang diverifikasi oleh bukti arkeologi berasal dari Dinasti Shang (1600 SM-1046 SM), karena prasasti pada tulang oracle mencatat nama-nama sekolah Dinasti Shang.
Pada masa Dinasti Zhou (1045 SM – 356 SM), sistem pendidikan mulai diperbaharui dengan struktur sekolah yang lebih komprehensif. Sekolah-sekolah pada periode Zhou Barat/Western Zhou Dynasti (1045 SM – 771 SM) juga dibagi menjadi dua jenis: “Guoxue” (国学), yakni sekolah yang didirikan pemerintah pusat untuk melatih anak-anak bangsawan dan “Xiangxue” (乡学), sekolah yang didirikan pemerintah negara bagian untuk mendidik anak-anak dari kalangan rakyat jelata. Tidak ada sekolah untuk anak-anak budak pada masa itu. Siswa mulai belajar pada empat bidang: moralitas, perilaku, seni, dan etika. Mata pelajaran yang dimiliki antara lain kesopanan (礼), musik dan tarian (乐), memanah (射), mengemudi kereta (御), sejarah (书), dan matematika (数).
Pada Periode Musim Semi dan Musim Gugur/Spring and Autumn Period (770 SM – 476 SM), beberapa intelektual mulai berkumpul dan mengajar, mempromosikan pemikiran dan ide mereka, yang mengarah pada munculnya sekolah swasta. Pendiri sekolah swasta terkenal dan paling awal adalah Konfusius/Confucius/Kong Fu Zi (孔夫子), yang filsafat pendidikannya menekankan pada pembelajaran puisi, sejarah, kesopanan, dan musik, dan juga menghargai penanaman ucapan, kebajikan, politik, dan sastra.

Source: 1. Education in ancient China – Chinese Culture
Pada masa Dinasti Han (202 SM – 220 M), sekolah dibagi menjadi sekolah negeri dan sekolah swasta, dengan sekolah negeri menjadi yang paling berkembang. Di sekolah-sekolah negeri kemudian ada “Taixue” (太学) yang didirikan oleh pemerintah pusat dan sekolah-sekolah lain yang dijalankan oleh pemerintah daerah. Taixue, universitas pertama dalam sejarah Tiongkok, secara resmi didirikan pada tahun 124 SM oleh Kaisar Wu dari Han, mendaftarkan sekitar 50 mahasiswa. Pada masa Kaisar Cheng dari Han, jumlahnya telah meningkat menjadi 3.000. Pada tahun 176 M, Kaisar Ling dari Han mendirikan sekolah khusus pertama di Tiongkok, mengajar prosa, kaligrafi, dan lukisan, mirip dengan perguruan tinggi budaya dan seni modern, dengan lebih dari 1.000 siswa. Sekolah negeri lokal secara bertahap berkembang, dan pada tahun 3 M, dari tingkat pusat ke lokal ke desa, sistem pendidikan feodal di Tiongkok telah didirikan secara resmi.
Selama dinasti Sui dan Tang (510 M – 907 M), “Guozijian” (国子监, Imperial College) didirikan sebagai Kementerian Pendidikan, menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif. Tidak hanya ada universitas, tetapi juga perguruan tinggi khusus, seperti sekolah kedokteran dan sekolah persiapan. Sistem kuota diterapkan untuk penerimaan, dan ujian khusus mata pelajaran ditetapkan. Selain anak-anak pejabat, anak-anak dari kalangan rakyat jelata juga bisa bersekolah. Siswa harus menjalani ujian bulanan, ujian tahunan, dan ujian kelulusan. kegagalan dalam ujian mengharuskan mengambil kembali kursus dan akan menghadapi konsekuensi berupa pengusiran jika gagal terus-menerus. Siswa menikmati makanan di sekolah tetapi wajib mengikuti upacara “Shuxiu” (束脩) untuk guru mereka. “Shuxiu” (束脩) adalah tradisi siswa memberikan hadiah kepada guru mereka pada saat dimulainya sekolah, yang berakar pada prinsip-prinsip pendidikan dari Confucius dan mencerminkan nilai tinggi yang ditempatkan pada pembelajaran dan rasa hormat terhadap guru dalam budaya Tiongkok. Selama masa dinasti Tang, terdapat banyak mahasiswa asing, termasuk dari Silla, Goguryeo (Korea)Pada dinasti Ming (1368 – 1644) dan Qing (1616 – 1911), Guozijian telah menjadi satu-satunya lembaga pendidikan tertinggi di negara ini. Siswa di Guozijian dibagi menjadi empat kategori: “Jujian” (举监), dipilih oleh pemerintah; “Gongjian” (贡监), dipilih dari sekolah lokal; “Yin Jian” (荫监), anak-anak pejabat tinggi yang diakui melalui hak istimewa; dan “Lijian” (例监), anak-anak rakyat jelata yang diterima melalui sumbangan. Siswa asing disebut “Yisheng” (夷生). Kurikulum terutama berfokus pada klasik Konfusianisme. Siswa dapat maju ke tingkat yang lebih tinggi melalui ujian, biasanya lulus dalam empat tahun. Guozijian dari Dinasti Ming menerapkan “huisi” (会食) dan “lishi” (历事). Huisi adalah makanan formal di mana guru dan siswa makan sesuai dengan posisi dan etiket yang ditetapkan untuk menumbuhkan perilaku yang ketat. Lishi mirip dengan magang modern, di mana siswa ditugaskan ke berbagai kantor pemerintah untuk mempelajari urusan administrasi, mempersiapkan tugas resmi. , dan Jepang, dengan siswa Jepang menjadi yang paling banyak.

Source: 1. Education in ancient China – Chinese Culture
Pada dinasti Ming (1368 – 1644) dan Qing (1616 – 1911), Guozijian telah menjadi satu-satunya lembaga pendidikan tertinggi di negara ini. Siswa di Guozijian dibagi menjadi empat kategori: “Jujian” (举监), dipilih oleh pemerintah; “Gongjian” (贡监), dipilih dari sekolah lokal; “Yin Jian” (荫监), anak-anak pejabat tinggi yang diakui melalui hak istimewa; dan “Lijian” (例监), anak-anak rakyat jelata yang diterima melalui sumbangan/beasiswa. Siswa asing kemudian disebut “Yisheng” (夷生). Kurikulum pada masa itu berfokus pada Konfusianisme klasik. Siswa dapat maju ke tingkat yang lebih tinggi melalui ujian dan lulus dalam empat tahun. Guozijian dari Dinasti Ming menerapkan “huisi” (会食) dan “lishi” (历事). Huisi adalah makanan formal di mana guru dan siswa makan sesuai dengan posisi dan etika yang ditetapkan untuk menumbuhkan sifat hormat. Lishi mirip dengan magang/internship di masa modern, di mana siswa ditugaskan ke berbagai kantor pemerintah untuk mempelajari urusan administrasi dan mempersiapkan tugas resmi.
Magang berlangsung selama tiga atau enam bulan, dengan siswa kembali ke asrama mereka pada malam hari. Kinerja magang dinilai sebagai sangat baik, sedang, atau buruk. Siswa unggul dipilih untuk posisi khusus, siswa menengah melanjutkan magang mereka, dan siswa miskin atau dengan nilai yang tidak baik wajib kembali ke sekolah mereka. Siswa Guozijian menikmati manfaat besar sebab negara menanggung biaya hidup, termasuk menghidupi keluarga mereka jika menikah dan memberikan uang untuk pernikahan jika belum menikah. Biaya perjalanan untuk kunjungan rumah juga ditanggung. Namun, pikiran dan perilaku mereka dikendalikan secara ketat, dengan peraturan yang mengatur kelas, rutinitas sehari-hari, makan, pakaian, mandi, dan cuti. Pelanggaran disambut dengan hukuman fisik atau bahkan eksekusi untuk pelanggaran berat.

Source: 1. Education in ancient China – Chinese Culture
Pendidikan Akademi Swasta
Pendidikan akademi di Tiongkok kuno adalah bentuk pendidikan feodal yang sangat unik, berlangsung lebih dari 1.000 tahun sejak Dinasti Song hingga Dinasti Qing. Sistem manajemen dan metode pengajarannya berbeda secara signifikan dari Imperial College (Guozijian 国子监), dan memiliki dampak mendalam pada sejarah pendidikan Tiongkok.
Akademi setara dengan universitas swasta saat ini. Akademi paling awal muncul di Suining, Sichuan, pada tahun 635 M pada masa Dinasti Tang. Awalnya, akademi ini tidak dimaksudkan untuk mengajar. Namun, pada pertengahan hingga akhir Dinasti Tang, beberapa akademi yang didirikan secara swasta mulai mendidik siswa, memunculkan akademi pendidikan.
Dengan dukungan pemerintah, akademi pendidikan mencapai puncak pertamanya pada awal Dinasti Song Utara (960 – 1127), dengan pendirian beberapa akademi berskala besar, seperti Akademi Yuelu (岳麓书院) di Changsha, Hunan, dan Akademi Bailudong (白鹿洞书院) di Lushan, Jiangxi. Pada masa Dinasti Song Selatan (1127 – 1279), jumlah akademi telah tumbuh menjadi 136. Beberapa akademi mendapatkan dikenal luas karena ceramah yang diberikan oleh cendekiawan Neo-Konfusianisme terkemuka, seperti Zhu Xi. Selama Dinasti Ming (1368 – 1644), beberapa sarjana Konfusianisme menggunakan akademi untuk mempromosikan ide-ide akademis dan politik mereka, yang mengarah pada kebangkitan pendidikan akademi. Selama periode ini, pendidikan akademi terkait erat dengan kegiatan politik, yang menimbulkan ancaman bagi otokrasi feodal dan menyebabkan pelarangan akademi.

Source: 1. Education in ancient China – Chinese Culture
Isi pengajaran di akademi tidak jauh berbeda dari sekolah-sekolah resmi di berbagai dinasti, dengan fokus terutama pada studi dan interpretasi klasik Konfusianisme dan Neo-Konfusianisme. Selain perkuliahan oleh guru, aspek terpenting dari metode pengajaran adalah belajar mandiri oleh siswa. Ciri khas lainnya adalah “sistem pertemuan kuliah”, yang melibatkan debat akademik dan mengundang para sarjana dari berbagai aliran pemikiran untuk memberi kuliah dan terlibat dalam diskusi akademis. Pertemuan kuliah ini memiliki tema, aturan, tanggal yang ditetapkan, dan upacara formal tertentu, mirip dengan simposium akademik saat ini.
Struktur organisasi akademi yang sudah mapan mirip dengan universitas modern. Termasuk posisi didalamnya seperti presiden, profesor, administrator, petugas keuangan, personel logistik, resepsionis, staf dapur, penjaga keamanan, dan penjaga malam. Siswa belajar di “zhai/斋” (ruang kelas) yang berbeda dan berfokus pada berbagai mata pelajaran seperti sastra, seni bela diri, klasik Konfusianisme, dan seni. Akademi memiliki sistem peraturan akademik yang komprehensif. Pada tahun 1685, selama Dinasti Qing, Akademi Bailudong merumuskan tujuh peraturan akademik: (1) Pengabdian pada karakter moral; (2) Rajin membaca; (3) Berpikir jernih dan rasional; (4) Kerendahan hati dan keinginan untuk belajar; (5) Kepraktisan dalam urusan; (6) Keadilan dalam mengevaluasi orang lain; (7) Pembelajaran kolaboratif.
Sistem Ujian Kekaisaran
Sistem Ujian Kekaisaran Tiongkok (科举考试制度) adalah metode pemilihan pejabat untuk birokrasi negara di Kekaisaran Tiongkok. Sistem ini menjadi hal pokok dari sistem layanan sipil Tiongkok selama lebih dari satu milenium, dari dinasti Sui (581-618) hingga penghapusannya pada tahun 1905 selama dinasti Qing. Ujian dirancang untuk menguji pengetahuan kandidat tentang klasik Konfusianisme, puisi, esai, dan kebijakan pemerintah. Ada beberapa tingkat ujian, termasuk ujian provinsi, metropolitan, dan istana. Keberhasilan di setiap tingkat memungkinkan kandidat untuk maju ke level berikutnya dan akhirnya memenuhi syarat untuk posisi pemerintahan. Ujian sangat berfokus pada ajaran dan prinsip-prinsip Konfusianisme, termasuk Lima Klasik/Five Classic (五经/wu jing, buku-buku teks Tiongkok klasik yang menjadi pusat Konfusianisme) dan Empat Kitab/Four Books (四书/si shu), teks yang dikaitkan dengan Konfusius dan para pengikutnya). Wu Jing dan Si Shu inilah yang sampai hari ini digunakan sebagai pedoman beragama masyarakat Konghuchu di Indonesia. Kandidat diharapkan tidak hanya menunjukkan pengetahuan tetapi juga keterampilan sastra dan integritas moral. Sistem ujian ini memungkinkan individu dari kelas sosial yang lebih rendah untuk berpotensi naik ke posisi birokrasi tinggi berdasarkan kemampuan intelektual dan kinerja ujian mereka. Sistem ini memiliki pengaruh besar pada masyarakat Tiongkok, karena keberhasilan dalam ujian sangat dihargai dan dapat membawa prestise dan status sosial yang besar bagi individu dan keluarga mereka. Disamping itu, sistem ini juga berkontribusi pada dominasi ideologi Konfusianisme dalam budaya dan pemerintahan Tiongkok hingga saat ini. Seiring berjalannya waktu, sistem ujian menghadapi kritik karena hanya mendorong hafalan dan membatasi kreativitas. Efektivitasnya mulai menurun selama akhir dinasti Qing karena korupsi, kecurangan, dan tantangan dari ide-ide Barat. Sistem ujian ini kemudian secara resmi dihapuskan pada tahun 1905 sebagai bagian dari reformasi Kebijakan Baru yang bertujuan untuk memodernisasi sistem pendidikan dan pemerintahan Tiongkok.

Source: Walk into Nanjing Jiangnan Gongyuan and feel what the ancient examination room was like? There are many ways to cheat

Source: Walk into Nanjing Jiangnan Gongyuan and feel what the ancient examination room was like? There are many ways to cheat
Main Source:
Texas Tech University Library. Education in ancient China. 1. Education in ancient China – Chinese Culture



