Tuntutlah ilmu walau ke negeri China (Life Lesson 1)

Tuntutlah ilmu walau ke negeri China (Life Lesson 1)

Tuntutlah ilmu walau ke negeri China اطلبوا العلم ولو بالصين

Arti semangat dan kerja keras

Tinggal di China, tak akan lepas dari etos kerja keras. Setiap elemen baik pendidikan atau non-pendidikan, secara alamiah mewajibkan mereka, warga Tiongkok, untuk selalu bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup masing-masing. Apakah tinggal di China enak? Tentu bagi aku sebagai mahasiswa internasional, kursakan betul apa itu ‘keadilan sosial’ disini. Fasilitas yang memadai, kemudahan akses sana-sini, kebutuhan hidup yang terjangkau, dll. Apalagi ketika aku mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah China. Tak pernah kekurangan, semua pas sesuai dengan kebutuhan. Terlebih lagi, ketika melihat kondisi ‘Indonesia gelap’ saat ini, membuat hidup di luar negeri menjadi salah satu opsi bagi sebagian orang yang sedang berada di fase lelah menjadi warga negara Indonesia, #kaburajadulu. Namun sobat, bagi warga asli Tiongkok, hidup di China sangatlah tidak mudah. Penuh tekanan tinggi untuk selalu bekerja keras guna memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa China ya. Tuntutan kerja keras ini, bisa aku bilang, dimulai sejak mereka duduk di bangku TK, atau bahkan PAUD. Sudah sempat aku sampaikan sebelumnya sobat, hingga saat ini, bahasa China (Mandarin) masih menduduki puncak klasemen sebagai bahasa paling sulit di dunia. Untuk mempelajari bahasa mereka sendiri, anak-anak kecil di China harus belajar ekstra keras sejak dini. Belajar menulis Hanzi, belajar tone, menghafal vocab, dan masih banyak lagi. Jadi ingat salah satu vidio yang beredar di instagram di TikTok, anak kecil yang menangis di pangkuan ayahnya sebab lelah mengerjakan PR menulis akasara China setiap hari sampai malam.

Kemudian, setelah beranjak remaja atau dewasa, masyarakat akan dihadapkan dengan persaingan yang tinggi di dunia pendidikan dan pekerjaan. Mengatur masyrakat dengan jumlah penduduk 1,4 miliar jiwa merupakan hal yang tidak mudah bagi pemerintah China. Dogma untuk selalu menjadi yang terbaik dan mampu bersaing sudah mendarah daging bagi setiap keluarga, warga asli Tiongkok. Mereka tidak mau kalah satu sama lain, dengan cara yang baik dan tidak melanggar norma etika tentu saja. Anak-anak sekolah akan mati-matian belajar sampai malam, berlomba-lomba untuk masuk ke perguruan tinggi, sedangkan orang dewasa berusaha mencari pekerjaan yang layak. Saat ini, China juga dihadapkan dengan kurangnya lapangan pekerjaan loh! Banyak lulusan sarjana dan bahkan doktor yang memilih menjadi driver taksi online atau pengantar delivery makanan. Tidak heran juga, ketika di China, memiliki banyak uang, rumah, dan mobil bagus adalah standar nyata kesuksesan seseorang. Mereka akan dinyatakan sukses oleh masyarakat ketika beberapa item tersebut sudah dimiliki. Bisa diakui, masyarakat Tiongkok adalah salah satu komunitas yang menjadikan standar ‘uang’ menjadi tahta tertinggi kebutuhan hidup. Uang mampu membeli segalanya, begitu kata mereka. Tanpa uang, apalah arti hidup. Apalah arti cinta jika secara materi seorang laki-laki tidak mampu memberikan finansial yang baik bagi keluarganya.

Sudah banyak diketahui juga sobat, angka kelahiran di China semakin menurun setiap tahun. Masalah ini menjadi perhatian serius pemerintah Tiongkok saat ini. Banyak masyarakat China yang memilih tidak menikah atau menikah di usia yang sudah sangat matang. Mengapa? Karna menikah bagi masyarakat China memerlukan persiapan yang matang, memerlukan finansial yang besar untuk sekadar mengadakan pesta pernikahan. Laki-laki di China sangat dituntut untuk memiliki banyak uang oleh keluarga perempuan. Mereka tidak mau anak gadisnya hidup dalam kesulitan dari segi material. Oleh karena itu, rata-rata usia pernikahan awal di China juga tergolong tinggi, yaitu 28,86 pada tahun 20201. Mereka tidak terburu-buru untuk menikah sampai kemampuan finansial itu terpenuhi. Sehingga, kerja keras menuntut mereka untuk selalu berkarya dan bekerja yang terbaik.

Setelah aku perhatikan perbandingannya dengan tinggal di Indonesia sobat, memang warga kita menjalani kehidupan dengan sangat santai hehe. Berbeda jauh dengan kondisi di China. Tidak ada yang namanya belajar di sekolah sampai malam, tidak ada yang namanya pengganti hari kerja di hari weekend karna libur nasional, tidak banyak hari libur, dll. Tidak pernah aku merasakan hidup sesantai ini jika tidak di Indonesia. Ada kurang dan lebihnya, tentu. Menurut survei yang dilakukan oleh Landgeist, tingkat stress di China dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia tergolong tinggi2. Asia adalah rumah bagi negara-negara yang paling dan paling tidak stress di dunia. Beberapa negara dengan tingkat stress tinggi adalah Afghanistan, Lebanon (74%) dan Turki (64%). Ada tiga negara Asia lagi di 10 besar global. Yordania menempati peringkat ke-5 (58%), China ke-8 (55%) dan Irak ke-9 (53%). Bahkan Jepang dan Korea Selatan masih berada dibawahnya (39% dan 38%, secara berurutan). Sebaliknya, terdapat enam negara dengan tingkat stress yang rendah di Asia, yakni Kazakhstan, Uzbekistan (12%), Kirgistan, Indonesia (13%), Mongolia (14%) dan Rusia (19%). Persentase dihitung dari tingkat stress pada hari biasa, sehari sebelum pengisian survei. Jadi, bisa dibayangkan bukan? Disamping kemajuan yang diperoleh China dari segala bidang, ada masyarakat Tiongkok yang harus bekerja ekstra keras untuk tinggal di negara mereka sendiri.

Source: Landgeist. Stress in Asia – Landgeist

Dimanapun kita hidup, memang tidak bisa jauh dari kata ‘kerja keras’. Semua yang terlihat enak dan mudah di luar sana, pasti ada jerih payah dibelakangnya. Dalam bidang apapun, pendidikan, pekerjaan, lingkungan, dll. Kalau sobat perhatikan, orang-orang keturunan etnis Tionghoa di Indonesia pun rata-rata sangat pekerja keras. Tak heran, jika negara China saat ini sangat maju. Ternyata semua dilandasi dengan etos kerja keras masyarakatnya di segala elemen. Oleh karena itu, yuk, selagi kita masih ada kesempatan, dalam bidang apapun itu, manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Kerahkan tenaga terbaikmu, jangan setengah-setengah dalam melangkah. Soal hasil, kita sebagai makhluk Tuhan, serahkan semuanya pada-Nya. Jika dihadapkan kegagalan itu bertubi-tubi, tidaklah mengapa. Kegagalan adalah bumbu-bumbu perjalanan hidup yang mampu memberikan variasi rasa beraneka ragam. Sulit? Tentu saja. Tetapi, jika kita melaksanakan dengan hati lapang, insya Allah, semua ada jalan. Dan pada akhirnya, kita akan merasakan, bagaimana arti kerja keras ini mampu membuka satu persatu pintu masa depan kita. Jika itu baik, maka kita syukuri, jika tidak, ambil hikmahnya sebagai pembelajaran berharga di masa medatang.

  1. Sixth Tone, 2023. Taking it Slow: China’s Gen Z in No Hurry to Walk Down the Aisle. Taking it Slow: China’s Gen Z in No Hurry to Walk Down the Aisle ↩︎
  2. Landgesit, 2022. Stress in Asia. Stress in Asia – Landgeist ↩︎

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *